Penonton khusus nya sobat yang familiar dengan A History of Violence
(2005) karya David Cronenberg kemungkinan besar akan sangat mengenal
jalan cerita yang ditawarkan oleh Peter Chan lewat film pertamanya
setelah mengarahkan The Warlords pada tahun 2007 lalu, Wu Xia. Dirilis dengan judul Dragon dan Swordsmen
di beberapa negara, film ini mengisahkan mengenai Liu Jinxi (Donnie
Yen) yang baru saja membunuh dua orang penjahat yang berniat untuk
merampok pemilik toko kertas tempat ia bekerja. Tak disangka, salah satu
dari penjahat tersebut merupakan seorang buronan yang telah lama
dicari-cari oleh pihak kepolisian dan dikenal sebagai seorang penjahat
brutal yang memiliki kemampuan kungfu yang sangat tinggi. Keberhasilan
Liu Jinxi dalam membunuh sang buronan kemudian membuat salah seorang
detektif bernama Xu Baijiu (Takeshi Kaneshiro) kemudian mulai
menyelidiki siapa Liu Jinxi sebenarnya.
Sebagai seorang yang ahli di bidang fisiologi dan mengenal daerah titik-titik tekanan (pressing points) pada tubuh yang biasanya digunakan oleh seseorang yang memiliki kemampuan martial arts
untuk memberikan rasa sakit pada lawannya, Xu Baijiu sangat merasa
penasaran mengenai bagaimana seorang biasa seperti Liu Jinxi mampu
menggunakan kemampuan tersebut dalam mengalahkan lawannya. Penelusuran
yang dilakukan oleh Xu Baijiu akhirnya mampu sedikit mengungkap masa
lalu Liu Jinxi bahwa ia merupakan seorang pendatang di desa tersebut dan
memiliki masa lalu yang gelap dengan keluarganya. Sementara itu, di
sebuah tempat lain, para anggota kelompok 72 Demons yang kejam dan telah
lama mencari salah satu anggotanya yang hilang, Tang Long, mulai
menemukan titik terang mengenai keberadaan pria tersebut… yang ternyata
memiliki hubungan dengan keberadaan Liu Jinxi.
Walau memiliki judul yang sangat umum – Wu Xia, yang merupakan sebuah sebutan genre dalam fiksi China yang melibatkan deretan adegan pertarungan martial arts antara karakter-karakternya – Wu Xia
tidak melulu mengisahkan mengenai adu kemampuan bertarung yang
dilakukan oleh para karakternya. Penulis naskah, Aubrey Lam, mampu
menuliskan lebih dari itu. Meskipun jalan cerita film ini menempatkan
kisah hidup karakter Liu Jinxi sebagai jalan cerita utamanya, namun
penyelidikan detektif Xu Baijiu-lah yang menjadi sorotan utama yang
mampu mengalirkan kisah cerita di film ini. Lewat berbagai analisis Xu
Baijiu yang ia lakukan secara fisiologi maupun pressing points
terhadap kasus yang melibatkan Liu Jinxi penonton kemudian secara
perlahan diperkenalkan pada rangkaian masa lalu Liu Jinxi yang akhirnya
akan mengambil alih jalan cerita pada paruh kedua film – dimana Wu Xia akhirnya benar-benar akan menampilkan deretan adegan yang berisi koreografi action yang menawan.
Peter Chan melakukan pekerjaan yang sangat sempurna dalam mengarahkan jalan cerita Wu Xia
sehingga mampu berjalan dengan ritme yang tidak pernah berjalan terlalu
cepat namun mampu terhindar dari jalan penceritaan yang terlalu
bertele-tele – walaupun beberapa bagian cerita ditampilkan dengan durasi
yang sebenarnya dapat dipersingkat. Chan juga mampu mengeluarkan
kemampuan akting terbaik dari setiap jajaran pemeran filmnya, bahkan
dari Donnie Yen yang dikenal kurang mampu menampilkan tampilan emosi
yang mendalam dari wajahnya. Dalam Wu Xia, Chan memanfaatkan
penampilan Yen yang tenang dengan baik pada saat karakter yang Yen
digambarkan sebagai seorang pria/suami/ayah biasa, namun menggali
kemampuan martial arts Yen dengan maksimal ketika karakter yang ia perankan dikisahkan mulai melakukan pertarungannya. Koreografi action
yang diarahkan oleh Yan Hua dan Tanagaki Kenji serta melibatkan Yen
pada beberapa bagian juga tampil sangat memukau, khususnya pada paruh
kedua film yang memang dipenuhi banyak adegan laga tersebut.
Pemeran lainnya juga mampu tampil tidak
mengecewakan. Sebagai seorang detektif dengan kemampuan analisis yang
tajam, Takeshi Kaneshiro tampil meyakinkan. Peran Kaneshiro dan Yen
dapat dinilai sama maksimalnya dalam jalan cerita Wu Xia dengan keduanya mampu memberikan chemistry
yang cukup meyakinkan ketika tampil bersama dalam sebuah adegan.
Sayangnya tidak banyak cukup ruang yang diberikan kepada Tang Wei yang
berperan sebagai istri karakter Liu Jinxi, namun penampilan Wei tetap
tampil meyakinkan. Wu Xia juga menampilkan Jimmy Wang dan Kara
Hui dalam penampilan yang singkat namun sangat mencuri perhatian lewat
adegan laga yang mereka isi. Penampilan keduanya juga menjadi salah satu
momen emas di sepanjang berjalannya durasi Wu Xia selama 116 menit.
Sebagai sebuah film period, Peter Chan juga mampu menghadirkan tata produksi yang meyakinkan. Mulai dari tata kostum, tata rias hingga art direction mampu memberikan dukungan yang akan meyakinkan penonton Wu Xia bahwa jalan cerita film ini berjalan pada tahun 1917. Yang juga menjadi highlight Wu Xia
adalah tata musik film ini yang diarahkan tiga orang komposer
sekaligus: Chan Kwong-wing, Peter Kam dan Pong Prapahanchatchi.
Keberadaan tiga kepala pada pengarahan musik memberikan tata musik yang
cukup bervariasi di sepanjang penceritaan Wu Xia. Tata musik Wu Xia
mampu tampil begitu lembut dan harmonis ketika adegan menceritakan
mengenai kehidupan pedesaaan, namun tampil kuat dan menggugah ketika
adegan laga berlangsung. Penggunaan elemen musik rock pada adegan-adegan
laga di penghujung film juga menjadi sebuah tampilan yang sangat
menarik dan memberikan tambahan energi pada jalan cerita film.
Meskipun jalan cerita yang diusung oleh Wu Xia
terasa cukup familiar, namun Peter Chan mampu memberikan berbagai
elemen yang dapat membuat film yang ia arahkan terasa begitu segar untuk
dinikmati. Perpaduan yang pas antara kisah penyelidikan, misteri
mengenai masa lalu dan adegan-adegan laga yang memukau menjadikan Wu Xia
sama sekali tidak pernah terlihat datar bahkan dalam durasi
penayangannya yang cukup panjang itu. Didukung dengan kemampuan para
jajaran pemerannya dalam menampilkan kemampuan akting yang apik, tata
produksi yang meyakinkan, khususnya tata musik yang bervariasi dan
benar-benar mampu mengisi di setiap adegan, Wu Xia adalah sebuah film bercita rasa tinggi dengan kualitas yang akan sangat memuaskan para penontonnya.
Mau film nya?? Okey biar sobat seneng, nich saya beri.....

0 komentar: